
Patung Redy Rahadian (34) menggelar pameran tunggal bertajuk Interarction di Edwin’s Gallery, Kemang, Jakarta Selatan, 22 Mei-3 Juni 2007. Karya-karyanya mencerminkan pergulatan teknis untuk menaklukkan bahan baku besi. Secara tematis, dia getol mengulik soal kemanusiaan yang berangkat dari pengalaman pribadi.
Ada 28 patung hasil karya tahun 2006-2007 yang ditampilkan dalam pameran. Semuanya berbahan baku besi. Patung-patungnya mengusung berbagai obyek, terutama sosok-sosok manusia dalam beragam adegan, piramida, kubus, atau benda-benda lain di sekitar kita.
Ketekunan seniman muda ini untuk mengeksplorasi besi masih menarik dibicarakan. Di tangannya, besi yang keras, kaku, dan berat menjelma sebagai bahan yang luwes untuk membentuk berbagai obyek. Lempengan besi dipotong-potong, lantas dililitkan seperti pita. Teknik ini diandalkan untuk membuat sosok-sosok manusia.
Kadang permukaan besi dicacah atau dilubangi sehingga terkesan hancur. Citra ini memberikan efek dramatis pada tekstur yang gelembung. Lain kali, bahan besi ditempa menjadi kubus atau piramida yang meruang dan terstruktur.
Redy mengolah besi dengan teknik pengelasan untuk menyambung (welding) serta pengapian (forging) untuk membentuk, melubangi, atau melipat. Penyelesaian akhir patung memanfaatkan teknik penggosokan (scraping) dengan mesin gerinda.
Dengan teknis semacam itu, bisa dibayangkan bagaimana Redy bekerja. Di studionya, dia berjibaku dengan peralatan yang serba keras, seperti mesin las, gerinda, atau alat pelubang, yang digerakkan dengan listrik. Untuk menyelesaikan patung ukuran sedang saja, butuh waktu sekitar satu bulan.
Ketekunan Redy berkutat dengan besi sejak akhir tahun 1996 mengantarnya menguasai material dan teknis penggarapan yang baik. Selain dicapai melalui eksperimen secara otodidak, kemampuan itu juga didukung pendidikannya di jurusan otomotif.
Translated to English:
Sculptor Redy Rahadian (34) held a solo exhibition titled Interarction at Edwin’s Gallery, Kemang, South Jakarta, from May 22 to June 3, 2007. His works reflect a technical struggle to conquer the raw material of iron. Thematically, he is passionate about exploring humanity, drawing from personal experiences.
The exhibition showcased 28 sculptures created between 2006 and 2007. All were made of iron. The sculptures featured various objects, primarily human figures in different scenes, pyramids, cubes, or other objects from everyday life.
The dedication of this young artist to exploring iron remains a fascinating topic. In his hands, iron—usually hard, rigid, and heavy—transforms into a flexible material capable of forming various objects. Iron sheets are cut into pieces, then twisted like ribbons. This technique is relied upon to create human figures.
Sometimes, the surface of the iron is shredded or perforated to create a shattered impression. This imagery adds dramatic effects to the bubbled texture. At other times, the iron is forged into cubes or pyramids, giving it spatial and structured forms.
Redy manipulates iron using welding techniques to join pieces and forging techniques to shape, pierce, or fold it. The finishing touch involves scraping techniques using a grinding machine.
With such technical approaches, one can imagine how Redy works. In his studio, he battles with heavy-duty tools, such as welding machines, grinders, or punching devices, powered by electricity. Completing a medium-sized sculpture alone can take about a month.
Redy’s dedication to working with iron since late 1996 has led him to master the material and its crafting techniques. This mastery, achieved through self-taught experiments, was also supported by his educational background in automotive studies
