
Bagi sebagian besar seniman, besi mungkin bukanlah media yang akrab jika diaplikasikan menjadi sebuah patung. Tapi di tangan Redy Rahadian pematung yang menuntut disiplin ilmu otomotif dari Institut Saint Joseph Brussels, Belgia, besi justru mampu disulap menjadi sebongkah patung yang memiliki cita rasa artistik tinggi dan juga mampu menyelinapkan pesan-pesan filosofis humanitarian.
Lewat pameran tunggalnya yang diberi tajuk Interaction di Edwin Galeri Jakarta, Redy, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan seni, mampu menghasilkan sederet karya unik. Disebut unik karena patung yang terbuat dari material lempengan besi itu masih terbilang langka di negeri ini.
“Biasanya seniman patung di negeri ini lebih banyak menggunakan bahan-bahan seperti perunggu, kuningan, maupun kayu. Sedangkan untuk yang terbuat dari material besi, setahu saya masih sangat jarang, mungkin juga belum ada,” kata Edwin Rahardjo, kolektor yang juga pemilik galeri, ketika ditemui Republika di Jakarta.
Edwin menyebutkan bahwa karya patung yang digarap oleh Redy tergolong sebagai karya seni kontemporer. Karya ini, menurutnya, tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis belaka. “Tetapi juga dia mampu merepresentasikan berbagai pengalaman hidupnya ke dalam patung yang dibuatnya,” ujarnya.
Tak heran jika kita menyimaknya, maka akan ada semacam “rasa” dari sejumlah patung yang dikerjakannya. “Rasa” tersebut lebih berkaitan dengan penggunaan simbol maupun metafora pada setiap patung karya Redy.
Dalam bahasa simbol, Redy kerap menggunakan lempengan besi yang dibentuk semacam uliran menyerupai tali. Tali tersebut dijadikan sebagai penghubung antara dua objek terpisah, yang dapat diterjemahkan sebagai sebuah ikatan sosial dalam lingkungan sekitar. Selain tali, ada juga simbolisasi seperti tangga yang mencerminkan jenjang perjalanan manusia dalam meniti karier.
Kemudian, ada bentuk piramida yang sering dijadikan oleh Redy untuk menggambarkan hasrat, niat, tujuan, ataupun pencapaian yang biasanya ada pada setiap orang dalam mengejar dunia. Pada bentuk piramida, Redy ingin menunjukkan bagaimana hasratnya tidak ingin terlalu dimabuk cita-cita tinggi dalam menggapai kehidupan dunia.
Translated to english:
For most artists, iron may not be a familiar medium when applied to sculpture. But in the hands of Redy Rahadian—a sculptor who studied automotive engineering at the Saint Joseph Institute in Brussels, Belgium—iron is transformed into a block of sculpture with high artistic value and the ability to subtly convey philosophical and humanitarian messages.
Through his solo exhibition titled Interaction at Edwin Gallery in Jakarta, Redy, who does not have an academic background in art, managed to create a series of unique works. They are considered unique because sculptures made from iron sheets are still rare in this country.
"Usually, sculptors in this country use materials like bronze, brass, or wood. As for those made from iron, as far as I know, they are still very rare, perhaps even nonexistent," said Edwin Rahardjo, a collector and gallery owner, when interviewed by Republika in Jakarta.
Contemporary Art
Edwin mentioned that the sculptures created by Redy fall under the category of contemporary art. According to him, this work does not only rely on technical skill. "But he is also able to represent various life experiences into the sculptures he creates," he said.
It’s no wonder that when we observe them, there is a certain "feeling" present in several of his sculptures. This "feeling" is more related to the use of symbols and metaphors in each of Redy’s works.
In symbolic language, Redy often uses iron sheets shaped like spirals resembling ropes. These ropes are used to connect two separate objects, which can be interpreted as a social bond in the surrounding environment. Besides ropes, there are also symbols like ladders, which reflect the stages of a person’s journey in building a career.
Additionally, there is the pyramid shape that Redy often uses to represent desires, intentions, goals, or achievements, which are typically present in every individual’s pursuit of worldly success. In the pyramid form, Redy wants to show how his desire is not to be overly consumed by high aspirations in chasing the material world.

