
Merah Gallery membuka programnya di Jakarta dengan pameran kelompok Sari Tanah Merah, berlangsung 18 Juli sampai 31 Agustus 2026 di Jl. Kemang Selatan VIII No.2A, Jakarta Selatan. Dikuratori oleh A. Anzieb, pameran ini menghadirkan delapan perupa: Redy Rahadian, S. Dwi Stya Acong, Desy Gitary, Fiametta Gabriela, Fatih Jagad Raya, Lambang Hernanda, Stefany Zefanya, dan Yanal Desmon. Pameran ini bukan sekadar pembukaan ruang. Ia adalah pernyataan arah: Merah Gallery hadir sebagai ruang proses, bukan hanya ruang pajang.
Judul pameran lahir dari kisah yang sederhana dan nyata. Pada pertengahan 2025, pencarian sebidang tanah untuk galeri mempertemukan kembali kurator A. Anzieb dengan Samuel Soerojo (AZ). Dari tanah itulah gagasan pameran ini tumbuh. Dalam pembacaan Anzieb, sari tanah adalah zat paling inti yang memberi kehidupan, media tempat segala sesuatu ditanam, dirawat, dan dipanen. Proses kreatif seni rupa bekerja dengan cara yang sama: mengolah lahan, menyemai benih, menyiram, memupuk, dan menunggu dengan sabar.
Sedangkan Merah, nama galeri ini, dimaknai sebagai jiwa, energi, kesuburan, dan daya hidup. Maka Sari Tanah Merah dapat dibaca sebagai hasil paling berharga dari perjalanan kreatif manusia di tanah asalnya, berupa karya, panen, dan nilai hidup yang terus dijaga dan dihidupi.
Kedelapan perupa hadir dengan media dan kecenderungan yang berbeda, dari patung baja las tangan Redy Rahadian hingga karya media baru Fatih Jagad Raya yang mempertemukan animasi 3D dengan tari dan musik tradisi. Benang merahnya satu: proses penciptaan yang organik, berakar pada nilai budaya lokal, pengalaman personal, dan kepengrajinan tangan manusia. Kuratorial Anzieb menegaskan bahwa yang paling menarik dari sebuah karya justru prosesnya, kening yang berkerut, lamunan, kecemasan, dan debar yang menyertai setiap tahap penciptaan.
Bagi Merah Gallery, Sari Tanah Merah menandai komitmen jangka panjang. Galeri ini dirancang sebagai lingkungan bertumbuh bersama, tempat para perupa belajar, berdiskusi, dan berdialektika sambil terus berkarya. Pameran perdana ini menjadi fondasi program kuratorial yang akan berlanjut di Jakarta dan Bali, dengan tujuan membangun jaringan kolektor dan memperkuat posisi seni rupa kontemporer Indonesia di tingkat internasional.

