Seorang pematung melipat besi, kemudian “merajutnya” sedemikian rupa, seolah materi solid tak bergravitasi. Ia menjadikannya serpihan-serpihan makna di hati. Pematung itu Redy Rahadian, perupa yang lahir di Cianjur, 17 Mei 1973 Jawa Barat yang memberi jendela kekayaan tafsir seni patung kontemporer bagaimana objek bermateri logam digubah ditangannya layaknya puisi.
Membawa pesan-pesan abstraksi simbolik menyentuh, menyimpan misteri tentang narasinarasi hidup, sosok mungil manusia-manusia di belantara kerapuhan, kekuatan dan energi kodrati alam. Dalam amatan penulis, ia mampu menggambarkan simbolisasi karyanya seolah manusia dalam jagad besar dan kecilnya. Bagi orang Jawa, jagad (dunia) adalah semesta yang berlapis dan berdialektika.
Lahir dari dalam diri (kompeksitas jagad alit), kemudian ekspresinya terhubung pada totalitas semesta besar di luar (kompleksitas jagad ageng). Filosofis semesta besar dan kecil dalam pendekatan kosmologi Jawa rupanya menyetubuh dengan cara-cara Redy dalam proses pembuatan patungnya dan eksistensinya sebagai seniman. Ia selalu menggambarkan sosok manusia kecil—yang mungkin pengalaman faktual dirinya sendiri yang terkait dengan energi ekspresi emosi, ketajaman nalar membangun konstruksi solid patung dan menguarkan beragam cerita kemanusiaan diluar (jagad ageng) sekaligus di dalam diri (jagad alit). “Saya mencipta karya-karya itu, seperti layaknya mendapat ilham, tak membuat konsep desain dahulu.
Dalam perjalanan prosesnya, tetiba ia berkelebat di kepala, membisiki hati dan tetiba jadi”, ujarnya pada penulis membuka percakapan hangat di studionya di Kemang, Jakarta Selatan. Redy berjumpa kembali dengan penulis usai lebih dari duapuluh tahun lalu, saat awal-awal karirnya di tahun 2000-an menggebrak paras seni kontemporer Indonesia dengan karyakaryanya yang segar. Ia membetot rasa, sekaligus menghadirkan pesan-pesan kuat tentang manusia, spiritualitas, alam dan atsmosfir modernitas.
Perjumpaan kembali penulis tatkala menyaksikan di salah satu karya serialnya bertutur tentang bentuk hati, yang dipamerkan pada hajatan Jakarta Provoke! di Taman Menteng, Jakarta Juli ini. Redy memanggungkan kotak kubus raksasa setinggi tujuh meter, dengan tentu saja didalam kubus itu menampakkan gaya khasnya ini: sosok-sosok mungil manusia, yang menambat tali besi ke sebongkah bentuk hati raksasa.
Hati Merah, Putih dan Hitam Ingatan mistikus Turki, sang Maulana Jalaludin Rumi tetiba berkelebat saat serial karya berjuluk Hati Yang Diperjuangkan, Red Heart dan White Heart milik Redy menyapa penulis di galeri Merah dan studionya di Kemang. “Hati ibarat kemurnian nurani, semenjak ia memberi gerak semesta yang terus-menerus diamati, seperti pantulan cermin. Ia bisa putih pun merah, bahkan mungkin hitam?”, kata Redy berfilosofis, yang bisa jadi ia mengutip kata Rumi? Rasanya muskil, seniman yang justru menempuh pendidikan formal bidang mekanik di Institut Saint Joseph, Brussel, Belgia, jurusan Mécanique Garage dengan penguasaan teknologi pengelasan logam yang diperolehnya di Eropa menjadi demikian puitis.
Tapi, itulah Redy yang fasih memahami logam—seperti baja, aluminium, dan tembaga, telah mengintimasinya lebih dari 25 tahun. Ia menggedor benak tentang disiplin desain dan karakternya yang luwes secara teknis dengan pencapaian artistik unik keluar dari batas-batas. Terutama membangun narasi-narasi elok dengan bentuk materi logam yang merangsang apresiannya menguak kembali pengalaman-pengalaman subtil tentang diri manusia. Mari kita tengok kembali, cerita patung Redy berjuluk Hati Yang Diperjuangkan, karya tahun 2025, dengan sebentuk komposisi bentuk hati yang seperti berlobang dan tersayat.
Hati merah itu dijangkarkan dalam sosok mungil berkelir merah tua terlihat seakan dengan sekuat tenaga menarik tali di atas lingkaran bersudut-sudut tajam. Ia membawa pesan, seolah demikian sulit mempertahankan kemurnian dan menjaga hati. Abstraksi elok yang menggugat betapa banyak manusia-manusia sepanjang hidupnya bertaruh raga dan nyawa untuk tetap di jalan yang diyakini, yang acapkali jalan itu menyayat dan menyakiti, yang seperti ditampakkan bentuk hati berlobang Redy di karya patung itu.
Karya ini secara keseluruhan sangat proporsional dilihat, membawa suasana nyaman tertentu memberi impresi kekuatan dan ketabahan tak henti, tentu selain kecakapan Redy mencipta harmoni. Uniknya, bentuk hati dan seluruh bentuk-bentuk yang dianggap Redy memvisualisasi simbolik sesuatu benda, justru adalah susunan manusia-manusia mungil. Ia seakan berpesan bahwa segala sesuatu di jagad besar ini adalah perwjudan kondisi riil mental dan fikir manusia alit. Alam semesta besar diluar, beresonansi juga ke kedalam batin, yang bahkan yang terkecil di diri manusia.
Karyanya yang Red Heart, kali ini berkelir merah tua atau maaron tak ada lingkaran menyelubungi, namun sebentuk hati yang diorkestasi tubuhnya oleh puluhan sosok-sosok yang mungkin di topang oleh satu sosok mungil diluar.
Bisa jadi Redy mentransmisi pesan bahwa hidup itu sulit, meski mampu bahkan ditopang oleh seseorang, cukup dengan kematangan dan ketabahan hati. Yang menghentak rasa dan fikir, atas simbol-sombol hati dengan sosok mungil yang tak berkelamin itu (genderless) adalah karya White Heart, tahun 2026. Redy di karya ini rupanya ingin membangun metafora bahwa, seolah ia berfilosofis lagi tentang hati hitam dan putih adalah niscaya, sebagai wujud kodrati mental manusia. Keduanya melekat, yang menyebadani manusia, sampai kelak menemui jalan akhir berpulang. Tak bisa lepas dari niat sakral yang berbaur keraguan, kegelisahan berkelindan dengan ketekadan yang acapkali tergelincir kemuraman kelir hitam yang menumbuk dari latar putih.
Redy, sebagai seniman, tahu persis manusia hakikatnya rapuh, dengan mewakilkan tak memisahkan dengan tegas yang warna hitam-putih berbaur,– yang bisa jadi ia (sosok sang hitam) mengelilingi bak planet-planet mengitari matahari? Impresi itu juga menampak, jika kita telaah dan amati, karya itu secara menyeluruh menyelami garis-garis hitam sesekali, yang semuanya terdiri atas sosok-sosk mungil hitam berintimasi putih membentuk raksasa hati.
Selain itu Redy mengimbuhkan dua sosok mungil berkelir hitam, di luar bentuk hitam-putih hati itu yang terlihat menopang raksasa hati, akankah ini perwujudan sepasang kekasih yang berniat dan bersimpang jalan sesekali? Niat bersih belum tentu ia sepenuhnya tak ternoda, sepertinya Redy memilih kegelisahankegelisahan kalbunya, yang menyandarkannya lamat-lamat di kata-kata Rumi, sang Maulana dari Turki itu “Jika terang ada di hatimu, kamu akan menemukan jalan pulang.”
https://jakartasatu.com/2026/07/22/jagad-besar-dan-kecil-hati-redy-rahadian/